Minggu, 01 Januari 2012

120 MENIT

MENUNGGU SELAMA 120 MENIT

            Memang ini bukan judul atau Kata Mutiara yang tertulis dibuku angkatan 65,tapi ini adalah kiasan yang tergambar saat aku mengalami musibah dibulan suci Ramadhan. Musibah yang menggemparkan kampung dimana aku tinggal,yang mengubah persepsi orang tentang diriku selama tinggal ditempat itu.
            Namaku Adzan,lansung saja aku mulai dari siang yang sangat panas,dipertengahan bulan suci Ramadhan. Seperti manusia biasa,ketika sedang puasa,aku yang hanya berusia 16 tahun,tergolek lemas dilantai yang dingin,dengan kipas angin yang ku hidupkan di sudut ruangan,tepatnya di ruangan tamu. Aku melihat jam tepat di dinding hadapanku,waah,ternyata masih jam 3 siang,waktu dimana semua orang lagi lemas-lemasnya. Sementara Ibu dan Bapakku sedang asyik membersihkan aquarium yang sudah keruh di halaman rumah. Aku yang hanya sahur dengan setengah piring,tidak menyadari akan kondisiku saat ini,lemas dan lesu. Tiba-tiba Ibu lewat dengan gayung berisi air,aku terkejut,ku kira Ibu akan menyiramku dengan air itu karena aku hanya bermalas-malasan di rumah,tetapi tidak,Ibu hanya membawa gayung tersebut untuk mempermudah proses bersih-bersih. Untung saja.
            Sambil memegang gayung Ibu berkata,
“Waktu muda jangan dipakai untuk bermalas-malasan,gunakanlah untuk aktivitas yang bermanfaat” sambil memasang muka sepele.
Aku membalas, “Ini juga aktivitas yang bermanfaat juga Bu,kita mengisi tubuh kita dengan energy,terus digunakan untuk beraktivitas.” Sambil memasang muka manis.
“Iya,energi malas yang membuat sel-sel yang ada ditubuh kamu malas untuk beraktivitas” sambung Ibu dengan sabar.
“Emang apa hubungannya sama sel-sel ditubuh kita Bu ?” tanyaku.
“Semua itu berawal dari hati loh anakku,hati kita itu diibaratkan sebagai pemimpin yang mengatur perasaan kita,jika hati kamu mengatakan malas,maka seluruh sel-sel yang ada ditubuh kamu akan mengikuti perintah hati.” Jawab Ibu sambil tersenyum.
“Hmm,gitu.” Sambil menaikkan alis satu keatas.
“Iya. Ya sudah,sekarang kamu bangkit dan ikut bantu Ibu sama Bapak menyelesaikan aquarium yang masih kotor itu.” Sambung Ibu.
“iya Buk.” Jawabku lemas.
            Saat aku berdiri dari lantai yang dingin dan tak terbilang lagi,dengan mata yang kabur,tiba-tiba aku melihat seseorang yang ku kenal memasuki kios pulsa milik abang sepupu aku yang bernama Radit,aku terkejut dengan apa yang ku lihat,orang itu adalah keponakan aku yang bekerja sebagai pengantar galon,aku heran mengapa dia mengambil jaket milik abang sepupu aku,tapi yang jelas ini patut diberitahukan kepada abang sepupu aku.
            Aku lekas ke kamar mandi, mencuci wajah, membasuh wajahku , dan cepat-cepat memberitahu kepada abang sepupu aku tentang kejadian tadi,aku datang dengan rasa yang menggebu-gebu,sambil berkata,
“Bang tadi ada orang datang ngambil jaket abang” semangatku
“Loh ? mana jaket abang zan ? ha ?” jawabnya panic sambil melihat sekelilingnya
“tadi ada yang ngambil,mirip keponakan kita juga” jawabku cepat
“sapa ? anton?” jawabnya panik
“anton sapa bang?” jawabku bingung
“alagh,anton yang adeknya buk Melani !” jawabnya marah
“hmmm..” aku mikir sesaat
“woi zan,betol gak ?!!” marah-marah
“Eh iya bang,bang Anton ‘kayaknya’” jawabku dengan nada menekan
            Abang sepupuku keluar dengan perasaan marah,dia menghidupkan kereta miliknya,dan lekas mencari abang Anton di mana berada. Aku hanya terdiam terpaku di depan kios miliknya,sambil memandangi Kartu Perdana yang menyediakan penawaran yang menarik. Tiba-tiba Abang Radit turun dari kereta dan menghampiri orang yang berada 100 meter di depannya,orang yang dihampirinya adalah bang Anton,yang baru selesai mengantar galon.
            Seketika bang Radit memukul bang Anton,dan terjadi perkelahian,aku tidak sanggup melerai perkelahian tersebut karena kekuatan aku kalah oleh mereka,aku diam terpaku melihat mereka,tumbukan kanan kiri melayang di wajah mereka sehingga wajah mereka dipenuhi oleh luka,bang Anton yang sudah jatuh ke tanah mengambil sebuah batu bata,”ya Allah” apa ini,aku merasa setan sudah mengelilingi pikiran mereka hingga mereka sampai sejauh itu melakukan perkelahian itu.
            Wajah bang Anton yang penuh luka akibat tumbukan yang cukup telak dari bang Radit tidak lantas membuat surut semangat bang Anton untuk melanjutkan perkelahian tersebut,sambil bangkit bang Anton berkata,
“Azab yang perih akan diberikan oleh Allah kepadamu atas perbuatanmu kepadaku !” sambil menyingkirkan darah di wajah.
“Dan azab yang lebih murka diberikan atas kaum yang berbohong di bulan suci Ramadhan” jawabnya marah
“Apa salahku hingga kau buat aku begini ?!” tanya heran. 
“Kau telah mengambil jaketku yang ku letak di sudut kios milikku !” marah
“Ada bukti kalau akau yang mengambil ?”
“Tidak ada bukti bila kau mengambil,tapi adzanlah yang melihat bila kaulah yang mengambil jaket milikku”. Jawabnya tegas
“Benarkah itu adzan ?” tanyanya padaku
Aku yang hanya terdiam,takut bila aku salah bicara,seketika aku menjawab
“Aku enggak tau pasti ya bang,soalnya mataku kabur waktu ngeliat”
“Ah kamu gimana sih zan!!” marah bang Radit.
            Warga yang melihat langsung datang ke tempat di mana bang Anton dan bang Radit berkelahi,di tempat itu Anton dan radit sudah seperti ayam yang seperti disabung,berantakan, berdarah, dan saling tumbuk-menumbuk,kejadian ini membuat warga kaget dan spontan ke tempat kejadian perkara seketika warga melerai dan mendudukkan mereka berdua di bawah pohon rindang,di mana ada bangku di sana,mereka dikelilingi warga yang heran mengapa mereka berkelahi, dan di sana mereka ditanyai mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
            Warga yang panic melaporkan kejadian ini kepada Pak Lurah yang rumahnya 300 Meter dari tempat kejadian. Beberapa menit kemudian Pak Lurah datang dan segera menanyai kejadian apa yang sebenarnya terjadi.
“Ada apa ini ? bulan Ramadhan kok berantem kalian ? ha ?” tanya  Pak Lurah kesal.
“Begini pak,Radit menuduh saya mencuri jaket miliknya,yang suda tahu tidak ada bukti kuat kalu saya yang mengambil jaket dia pak” jawab bang Anton lemas.
“Apa benar itu Radit? kamu menuduh Anton mencuri jaketmu?” tanya Pak Lurah
“Iya Pak!! adzan liat sendiri tadi!!” tegas radit
“Apakah betul adazan” tanya Pak Lurah
“Tidak pak, saya hanya sekilas melihat dan bukan berarti saya menuduh Anton sebagai pencuri” jawab Adzan
Warga yang menyaksikan bergumam ada yang tidak beres di sini. Melihat hal itu pak Lurah mengambil langkah yang bijak untuk menyelesaikan masalah yang sudah kelewat batas ini.
            Baiklah, Radit dan Anton saya bawa ke rumah saya untuk saya tanyakan, sementara Adzan pulanglah ke rumah, karena Adzan tidak bersalah atas apa yang terjadi di sini.
“tapi adzan sudah menuduh yang tidak-tidak pak Lurah” teriak seorang warga.
            Iya, Adzan memang salah tapi Adzan hanya memberikan keterangan yang jelas, toh kalau Dia berbohong pasti sudah ketahuan, karena ini bulan puasa, bulan yang penuh kejujuran.
            Sementara warga yang lain sibuk untuk berdebat siapa yang salah, pak Lurah membawa Radit dan Anton ke rumah pak Lurah. Sesampai di rumah pak Lurah, keduanya< yaitu Radit dan Anton saling sini pandangan.
“baiklah kita mulai musyawarah ini” pak Lurah dan diikuti oleh beberapa warga saja.
“Begini pak, sesuai dengan keterangan Radit tadi bahwa Anton telah mencuri jaket saya” tegas Radit
“tidak PAK!!. Kamu jangan memulai pertengkaran Radit, aku tidak ada mengambil jaket dari kau!!” teriak Anton
“Tenang-tenang. Kita luruskan saja. Anton tidak mungkin bohong Radit karena dia berpuasa, lagian dia ada di rumah bersama keluarganya sewaktu terjadi kejadian tersebut. Jadi dapat dipastikan bahwa Adzan salah lihat Radit” tegas pak Lurah.
            Radit hanya terdiam bergumam.
“ini bulan puasa tidak baik kalau kita bermusuhan ya” bijak pak Lurah
            Mereka berdua bersalaman dengan wajah yang kusut, sementara Anton yang mengalami luka di bagian wajah tampak pasrah dengan apa yang terjadi terhadap dirinya.
            Sewaktu solat tarawe, Radit merenungkan apa yang terjadi jika Dia mengambil keputusan yang salah tadi siang, dapat dipastikan jika Dia akan mengalami hal buruk. Sementara Adzan hanya terdiam merenungkan apa yang telah dia saksikan kepada orang-orang adalah salah.
            Malam setelah solat Taraweh, Adzan dan Radit ditemani pak Lurah datang ke rumah  Anton untuk meminta maaf secara lebih kepada Anton.
“Assalamualaikum” pak Lurah
“Waalaikumsalam, eh pak Lurah silakan masuk” sahut Anton
“Baiklah, kami di sini hanya untuk memberikan uang untuk berobat Anton sekaligus Adzan untuk meminta maaf” sahut pak Lurah.
“bang, saya minta maaf atas kesaksian saya tadi siang, saya sangant meyesal atas apa yang terjadi kepada abang” ucap Adazan dengan lemas
“Baiklah saya menerima uang dan memaafkan Adzan” jawab Anton
“Alhamdulillah masalah antara kita sudah beres, tidak ada lagi masalah antara kita yaa nak, harusnya bulan puasa tidaklah ditimpukkan dengan perasaan yang tidak enak ya nak, karena bulan puasa itu adalah berkah buat kita” jawab pak Lurah senyum
            Setelah perbincangan yang cukup lama, pak Lurah, Radit dan Adzan meninggalkan rumah Anton untuk pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan yang lega.
            Sekiranya, bulan-bulan selain bulan puasa juga harus diisi dengan perasaan yang lapang dada, sehingga tidak membawa kita ke dalam masalah yang dapat membelah keakraban umat beragama kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar